Wulang Reh, wasiat dari Sri Pakubuwono IV

Di saat negara kita sedang terpuruk dimana aksi teror, kejahatan dan hukum tidak bisa ditegakkan karena setumpuk uang, korupsi merajalela, para pejabat dan anggota perlemen berlomba-lomba mengais uang yang seharusnya tidak diterima; dimanakah negara kita berada? dan dimanakaha para pemimpin kita yang mampu menegakkan kembali keadilan dan kebenaran.

Apakah Presiden, ketua MPR atau pejabat lainnya yang bertanggungjawab? ataukah kita semua yang bertanggungjawab.

Apakah sulitnya mencari pemimpin yang sejati dalam memimpin negeri kita yang tercinta…..masih adakah diantara kita yang mempunyai  jiwa kepemimpinan yang sejati….

MAsih adakah………?  tentunya harapan jawaban nya adalah ada……Ada….kalau dari diri kita sendiri masing-masing mempunyai nurani dan keiklasan dalam melaksanakan setiap pekerjaan kita sendiri…menjadi pemimpin diri kita sendiri….

Sri Pakubuwono IV dalam serat Wulang Reh yang dituliskan untuk para putra dan cucunya (kita semua adalah putra dan cucunya) mengharapkan kita semua mengenali diri sendiri dan berkesadaran sebagai pemimpin sejati.

Apakah Wulang Reh itu sendiri?   Wulang artinya pelajaran dan Reh  artinya memimpin, jadi Wulang Reh adalah pelajaran untuk memimpin…Wulang Reh adalah kekakyaan yang kita punyai yang ditulis oleh Sri PAkubuwono IV; dimana Pemimpin Sejati  adalah seorang yang telah berhasil memimpin dirinya sendiri menuju kepada kemerdekaan dan kebijaksanaan…

Kita akan mulai dari diri kita sendiri, JAdikanlah diri kita sendiri sebagai peimpin sejati. Seorang yang dapat memimpin diri kita sendiri !!

Pamedhare wasitaning ati , cumanthaka aniru pujangga  dahat mudha ing batine,  nanging kedah ginunggung datan wruh yen akeh ngesemi, aneksa angrumpaka basa kang kalantur; tutur kang katula-katula ,tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padghanging sasmita

“”Tersingkapnya ajaran hati, Sok berani untuk meniru seorang pujangga/ahli kitab, hal ini sangatlah bodoh sekali, tetapi karena ingin dipuja, tidak tahu kalau banyaknya yang menentertawakan, memaksa untuk mengarang, bahasanya kacau, kata-katanya sia-sia, Telitilah dengan sabar, supaya semua tanda kehidupan menjadi jelas””

Diatas adalah kunci pembuka yang harus kita pahami bahwa  Kata hati adalah suara Kalbu, suara nurani terdalam yang merupakan bisikan yang Maha benar. Kalbu tidak bisa bohong, yang bisa bohong adalah pikiran . Dalam setiap kejadian, pasti ada dua suara dalam diri manusia; yang dikenal dengan kebaikan dan keburukan. Kebaikan diyakini dari Allah Swt dan keburukan dari Syaitan. Pada suatu saat antara Kalbu dan Pikiran akan melakukan “perang”secara batiniah untuk mengambil keputusan mana yang benar. Hal yang kadang kita lupa bila diyakini bahwa Kalbu tidak bisa dibohongi, yang bisa bohong adalah pikiran maka tersingkapnya ajaran hati  adalah kata wal yang sungguh sangat indah…

Ajaran hati, kata hati itu haruslah bisa didengar untuk menemukan kebenaran. Disaat manusia sudah melupakan hatinya dan selalu mengikuti pikirannya maka Wulang Reh memberi pesan untuk mengajak berjalan ke dalam diri, bukan mencari-cari sesuatu diluar diri alias instropeksi!

Pada saat ini banyak sekali orang “meniru  atau berpura-pura menjadi orang lain untuk mencari muka atau pujian untuk mendapat kepuasan secara material yang kadangkala juga lupa jati diri kita masing-masing sehingga akan menggunakan fasilitas-fasilitas yang seharusnya tidak kita kuasai secara leluasa. Banyak etika yang dilanggar karena hanya menuruti pikiran.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padhanging samita, Telitilah dengan sabar, supaya semua tanda kehidupan menjadi jelas.

Ya…Sabar dan teliti adalah kuncinya…untuk apa karena suatu tanda akan terjadi bila hati kita sudah terbula atau terdengar, namun yang perlu diingat pula bahwa dalam rangka membuka hati banyak gangguan disekeliling kita..maka oleh karena itu kembali kepada teliti dan sabar…

Refleksi Kepemimpinan

Seorang pemimpin harus dilahirkan bukan ada begitu saja. Harus melalui proses pembentukan dan memerlukan waktu dalam pembentukannya. Dan juga tidak bisa terbentuk dengan sendirinya karena Alam, Lingkungan dan masyarakat akan membentuknya.

Untuk menjadi pemimpin haruslah terbuka ajaran hatinya, dan dengan keihlasan dalam menjalaninya. Dan janganlah dengan kegoisan yang menyelimuti hatinya, jangan mendengarkan suara kekayaan, suara uang, suara kursi, suara orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan dari posisinya.

Jadilah pemimpin  janganlah menipu dirinya sendiri, janganlah menjadi “bapak nya”, janganlah menjadi “kakeknya” , jangan meniru otang pintar atau orang lain…Jadilah dirinya sendiri dengan kualiats yang bagus…dan juga Jujurlah pada diri sendiri

Seorang pemimpin harus berpikiran jernih sehingga kita akan menjadi teliti dan sabar sehingga kita akan bisa meneliti dan melihat tanda-tanda kehidupan dengan jelas.

Akhir dari semua diatas bahwa bila peimpin mau mendengarkan ajaran hatinya, mengiluti nuraninya, bukan mengikuti nafsu yang ingin memenangkan sesuatu, tidak menipu dirinya sendiri kemuadian mau bersabar dan teliti, niscaya tanda kehidupan akan menjadi jelas. Ia akan menjadi sorang pemimpin sejati, pemimpin untuk dirinya sendiri.

Sudah hari ini kita semua menjadi seorang pemimpin sejati minimal menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri?

Explore posts in the same categories: Motivation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: